Published 07.40 by Unknown

Sinopsis My Love From Another Star / You Come From the Stars Episode 2 (bagian 2)

Orang yang ada di pikiran Song Yi itu sekarang sedang duduk bermain mahjong dengan Pengacara Jang dan dua orang tua lainnya dan ia berhasil mengalahkan semuanya. Salah satu lawan Min Joon heran bagaimana Min Joon yang masih muda bisa mahir permainan itu dan bertanya pada Pengacara Jang. Apakah Pengacara Jang itu ayah Min Joon?


Walau mulanya kaget dengan pertanyaan itu, Pengacara Jang membenarkannya. Mendadak seorang kakek tua yang muncul di ruangan mahjong dan terkejut saat melihat Min Joon. Ia bertanya apakah Min Joon adalah Kim Woo San?



Min Joon tak kalah terkejut melihat kakek tua itu yang memiliki tahi lalat besar di hidung. Ia segera sadar kalau kakek itu adalah lawan yang pernah ia kalahkan berpuluh-puluh tahun yang lalu. Tapi kakek itu segera menyadari kalau tak mungkin pria itu adalah Kim Woo San dan menebak lagi,”Apakah kau cucu Kim Woo San?”


Pengacara Jang langsung memperkenalkan diri kalau ia adalah putra Kim Woo San dan Min Joon adalah putranya. Kakek itu senang sekali bertemu dengan Min Joon yang mirip sekali dengan kakeknya, orang yang selalu ia kalahkan. Min Joon langsung tersentil karena ia tahu saat itu ia yang selalu mengalahkan kakek itu.


Min Joon pun mengkoreksi ucapan kakek itu kalau yang ia dengar kakeknya, Kim Woo San adalah pria yang terkenal sebagai pemain mahjong terhebat di provinsi Gyeongseong. Tapi kakek itu malah memproklamirkan dirinya sebagai pemain mahjong terhebat di Gyeongseong, “Sepertinya kakekmu telah membohongimu.’

LOL, Pengacara Jang berusaha untuk tidak tertawa melihat Min Joon yang kesal karena kenyataan diputarbalikkan oleh si kakek.


Masih menahan kesabarannya dan dengan sopan Min Joon berkata kalau kakeknya bukan orang yang suka berbohong. Tapi dengan suara keras sehingga membuat semua orang menoleh, kakek itu malah menuduh kakek Min Joo sebagai pembohong karena dialah pemain Mahjong terhebat di Gyeongseong, “Aku yang hidup di masa itu, pasti tahu lebih baik daripadamu. Apa kau melihat kejadian itu? Apa kau melihat kakekmu mengalahkanku? Kutanya kau, apa kau melihatnya?!”


Haha.. Pengacara Jang masih terus tertawa walau mereka sudah pulang dari main mahjong. Min Joon menceritakan kakek tua itu pernah ia kalahkan 60 tahun yang lalu. Rasanya saat itu seperti kemarin saja. Selama ia hidup 400 tahun ini, banyak hal yang terjadi tapi tak banyak kenangan yang bisa ia ingat untuk dibawa kembali.


Pengacara Jang mengingatkan kalau ada gadis yang ia temui 12 tahun yang lalu. Ia berinisiatif untuk mencari identitas gadis itu dan sekarang sedang menyelidikinya. Tapi menurut Min Joon, Pengacara Jang tak perlu melakukan hal seperti itu. Pengacara Jang bertanya bukankah Min Joon ingin menemui gadis itu?


“Aku hanya merasa penasaran,” jawab Min Joon. “Tapi.. jika memang ada alasan untuk aku bertemu dengannya, bukankah aku pasti akan bertemu dengannya lagi? Jika aku pulang tanpa aku pernah menemuinya, jadi mungkinkah memang karena aku tak memiliki alasan untuk itu? Selama aku hidup di sini untuk jangka waktu yang lama, hal itulah yang aku pelajari.“


Min Joon bersantai di rumah, dan ia bisa mendengarkan semua keramaian di jalan walau ia ada di lantai 23. Ia pun menyalakan musik dan saat ia memejamkan mata menikmati musik tersebut, tanaman rumput-rumputan bertambah tinggi.

Hmm… jadi ia bisa menumbuhkan tanaman saat ia melepaskan kewaspadaannya?


Ia bangkit karena mendengar suara password pintu rumahnya dipencet  terus menerus. Pencuri?


Bukan. Itu adalah Song Yi yang mabuk dan salah pintu. Jadi wajar saja kalau pintunya tak bisa dibuka dengan passwordnya. Tapi Song Yi tak tahu itu. Dalam mabuknya, ia terus memencet passwordnya.


Rambutnya terus menerus turun walau sudah disibakkan. Ia kesal dan memerintahkan rambutnya, “Tetap disana dan jangan turun.” Tapi rambutnya kembali jatuh lagi, “Apa kau tak mau mendengarkan oenni? Kalau kau terus turun, nanti oenni disangka hantu.”


Kelakuan Song Yi ini terlihat di layar dan Min Joon hanya geleng-geleng kepala melihat Song Yi sekarang mencoba membuka pintu dengan cara berbeda. Setelah gagal dengan kombinasi angkanya, ia pun memilih  memantrainya, “Sesam.. buka pintu!” 


Gagal. Ia pun bergaya lain lagi dan berteriak, “Sesam.. buka pintu!” Berkali-kali, hingga gaya terakhir, ia menarik pintu ke atas, “Sesaammm… buka pintu!” Dan terbuka!


Song Yi bersorak kegirangan karena  pintu akhirnya terbuka. Namun ada suara menyelanya, “Tentu saja terbuka, karena aku yang membukanya.”


Song Yi tak kaget atau bingung. Ia malah menyapa Min Joon, “Ah.. tukang umpat jaman Joseon. Hei, tukang umpat, kenapa kau ada di rumahku?”


Dengan datar Min Joon menjelaskan kalau ini adalah rumahnya. Ia sedikit terkesima saat Song Yi menyibakkan rambutnya. Song Yi bertanya apakah Min Joon sekarang merasa senang karena telah memberinya nilai nol dan mempermalukannya?


Ia mulai mengata-ngatai Min Joon dan saat Min Joon menyelanya, Song Yi langsung menghardik, “Kenapa? Apa hanya kau yang bisa mengumpat dengan Joseon? Aku juga bisa. Aku akan melempar jukbang di jaman edan ini.”


“Itu bukan jukbang, tapi bangjuk (gumpalan tanah),” kata Min Joon mengkoreksi.

“Tauklah!!” teriak Song Yi tak peduli dan langsung masuk rumah, melewati Min Joon yang tak sempat mencegahnya.


Se Mi sudah berdandan cantik dan menunggu kedatangan Hwi Kyung. Hwi Kyung menerima telepon dan langsung memutar mobilnya. Jelas ia lupa akan janji dengan Se Mi saat mendengar kabar dari Manajer Song Yi yang tak bisa menghubungi Song Yi walau berulang kali meneleponnya.


Min Joon speechless melihat kelakuan Song Yi yang tertidur pulas di sofa. Scarf dan isi tasnya berceceran di lantai rumah. Ia pun memunguti isi tas dan terkejut saat Song Yi bergerak sehingga tak sengaja pundaknya tersingkap. Ia pun membuang muka dan melempar scarf sehingga pundak itu tertutup.


Handphone Song Yi berbunyi dan Min Joon mengangkatnya. Suara Hwi Kyung menyambutnya dan langsung bertanya siapa dirinya yang mengangkat handphone Song Yi.


Dan Hwi Kyung pun langsung ke apartemen Min Joon. Min Joon sedikit ragu membiarkan Hwi Kyung masuk, tapi Hwi Kyung tak memperhatikan. Ia marah pada Min Joon, "Kalau kau melihat seorang gadis salah masuk ke rumahmu, bukankah kau seharunya mengembalikannya ke rumahnya sendiri dengan diam-diam? Apalagi ia datang dengan mabuk!”


“Untuk mengembalikannya dengan diam-diam, makanya aku mengangkat teleponmu dan membiarkanmu masuk ke dalam rumahku. Bukankah seharusnya kau malah harus berterima kasih?” sindir Min Joon.


Hwi Kyung tak menjawab dan masuk rumah. Ia kaget melihat barang Song Yi tersebar dan Song Yi yang terkapar di sofa. Ia bertanya pada Min Joon apakah Min Joon benar-benar tak melakukan sesuatu pada Song Yi? Min Joon hanya menjawab, “Singkirkan saja dia dari rumahku.” Hwi Kyung marah mendengar pilihan kata Min Joon, “Singkirkan? Apakah Song Yi-ku ini semacam sampah yang harus disingkirkan?”


Hwi Kyung tak percaya pada Min Joon. Ia meminta handphone Min Joon. Ia ingin melihat apakah Min Joon tak memotret Song Yi yang ada dalam kondisi mabuk. “Song Yi ini adalah aktris paling terkenal di Korea. Siapa tahu kau mengambil gambar yang tidak-tidak. Kenapa aku harus percaya padamu dan langsung pergi begitu saja?”


Min Joon kesal dengan ucapan Hwi Kyung. Ia pun menatap Hwi Kyung dan berkata, “Kau benar. Jika gadis ini adalah aktris besar dan terkenal, kenapa aku harus percaya padamu dan langsung memberikanmu begitu saja? Ia sedang mabuk, dan siapa yang tahu apa yang akan kau lakukan dengan gadis itu?”


Hwi Kyung kaget mendengarnya. Ia berkata kalau ia adalah pacar Song Yi dan mau bicara panjang lebar, tapi Song Yi bangun dan menyuruh semuanya untuk tidak berisik karena ia sedang tidur. Hwi Kyung pun mengangkat Song Yi dan memapahnya bangun. Ia juga membawa semua barang-barang Song Yi, tapi tak melihat ada dompet yang tergeletak di bawah kursi.


Min Joon hanya berdiri melihat Song Yi dipapah Hwi Kyung. Tapi melihat pundak Song Yi yang kembali terbuka, ia menyipitkan matanya dan sesaat kemudian jaket Song Yi naik untuk menutupi pundak.


Sambil memapah Song Yi, Hwi Kyung mengomeli Song Yi yang bisa salah masuk apartemen. Ia tak suka melihat tetangga Song Yi, “Apa yang kau lakukan jika ia melakukan sesuatu yang aneh padamu?”


Dan di apartemen sebelah, Min Joon mendengarkan tuduhan Hwi Kyung, dan merasa sangat kesal. Ia pun mandi namun ucapan Hwi Kyung yang bicara sendiri terus terdengar. Hwi Kyung memutuskan untuk tinggal lebih lama dan minum bir.


Hwi Kyung mencoba mencuri-curi kesempatan untuk dekat dengan Song Yi. Melihat Song Yi yang terlelap, ia pun memejamkan mata saat mendekat wajah Song yi dan menciumnya. Namun sebelum bibirnya menyentuh bibir Song Yi, terdengar suara, “Apa kau mau mati?”

Hwi Kyung terkejut karena mendengar suara Song Yi. Melihat Song Yi masih memejamkan mata namun bisa tahu kalau ia akan menciumnya, ia pun salah tingkah, “Ohh.. kau tidak tidur?”


Min Joon mendengarkan semua itu dan tak bisa tak tersenyum saat mendengar Hwi Kyung mengaduh-aduh karena Song Yi memukuli kepalanya, walau kemudian ia sadar dan mengembalikan lagi ekspresi wajahnya menjadi datar.


Hwi Kyung kembali ke rumah dan baru teringat kalau ia punya janji dengan Se Mi. Ia pun menelepon Se Mi untuk minta maaf dan menjelaskan kalau Song Yi mabuk dan salah masuk rumah tetangga sehingga ia harus menjemputnya. Se Mi menjawab kalau ia juga sedang masih syuting dan belum bisa pulang.


Suara Se Mi sedikit bergetar saat berkata kalau ia akan kembali syuting dan menutup telepon. Hwi Kyung pasti tak menyadari perubahan suara Se Mi  seperti ia tak menyadari kalau Se Mi berdiri di samping mobil di lokasi syuting yang sudah selesai dari tadi. Setelah Hwi Kyung menutup telepon, Se Mi menangis tersedu-sedu.


Hwi Kyung bertemu dengan kakaknya yang juga barusan pulang dari tempat penitipan hewan. Hwi Kyung berkomentar kalau hanya Jae Kyung, cheobol yang seperti Gandi, menjadi sukarelawan padahal tak ada kamera.


Jae Kyung tersenyum dan berkata kalau ia jarang melihat Hwi Kyung walau Hwi Kyung sudah pulang ke Korea. Hwi Kyung menjawab kalau ia sibuk dengan pacarnya. Jae Kyung menggoda Hwi Kyung yang selalu diseret kesana kemari oleh si pacar. Hwi Kyung nyengir dan balik menggoda, ia memang diseret ke sana kemari, tapi apakah ada wanita yang melakukan itu pada Jae Kyung?


Jae Kyung hanya tersenyum mendengarnya dan bertanya tentang pekerjaan Hwi Kyung di kantor dan meminta Hwi Kyung bekerja sungguh-sungguh karena tak ada yang tahu identitas Hwi Kyung. Hwi Kyung heran kenapa ia dijadikan karyawan rendahan sementara Jae Kyung langsung menjadi General Manager saat pertama kali masuk?

Jae Kyung menjawab kalau ia sendiri pun menyangka kakak mereka yang akan mewarisi perusahaan ayah mereka dan ia tak dipersiapkan dengan memperoleh pendidikan untuk menjadi pewaris perusahaan, “Kau kan juga tahu kalau impianku adalah menjadi seorang dokter hewan.”


Hwi Kyung menggangguk. Setelah apa yang terjadi dengan kakak mereka, ia tahu betapa keras kerja Jae Kyung. Jae Kyung hendak meminta Hwi Kyung melakukan yang sama, tapi Hwi Kyung menyelanya, “Aku tahu Hyung sangat sempurna. Aku tak bisa mengikuti jejak hyung dan aku juga tak mau.”


Jae Kyung tertawa mendengar ucapan adiknya. Ada panggilan masuk ke handphone Jae Kyung dan Jae Kyung menyuruh adiknya untuk masuk terlebih dulu. Jae Kyung mengangkat telepon dan terdengar suara wanita yang menangis dan memohon, “Keluarkan aku dari sini, kumohon. Aku minta maaf dan berjanji tidak mengulanginya lagi. Aku bersumpah. Kau kan bukan orang jahat.”


Dan wajah Jae Kyun menjadi dingin saat menjawab, “Tentu saja aku bukan orang jahat. Walau ada orang-orang yang kubunuh selama ini, tapi lebih banyak orang yang tetap kubuat hidup walau aku ingin membunuh mereka. Dan kau masuk ke golongan yang terakhir. Jadi kuminta agar kau tak memohon padaku, kau harusnya malah berterima kasih padaku.”

Uhh… serem banget sih ni orang.


Keesokan harinya, Min Joon menemukan dompet di lantai. Ia membuka dompet itu dan melihat foto keluarga di dompet itu. Betapa terkejutnya saat ia melihat wajah gadis yang sama dengan gadis 400 tahun yang lalu di dompet itu. Wajah gadis yang juga sama dengan gadis 12 tahun yang lalu.


Ia keluar untuk mencari Song Yi. Tapi di koridor ia bertemu dengan Manajer Song Yi dan bertanya dimana song Yi berada. Manajer itu terkejut namun menduga kalau Min Joon akan merubah nilai nol Song Yi. Tapi Min Joon tak ada waktu dan membentak dimana Song Yi sekarang.

Dan Min Joon pun pergi, kali ini tak menggunakan sepeda, namun dengan mobil, melesat menembus jalanan menuju ke tempat Song Yi berada.


Song Yi berada di salon sedang dirias. Ia panik saat periasnya mengatakan wajah Song Yi membengkak. Ia kemarin baru minum Somaek – campuran soju dan bir, juga makan mie, “Apakah wajahku kelihatan sangat bengkak?”


Err.. menurut saya sih biasa-biasa saja, tapi menurut periasnya kalau Song Yi harus membatalkan acara hari ini karena make upnya kali ini tak akan kelihatan bagus. Song Yi akan menjawab namun perutnya berulah dan ia buru-buru segera ke toilet agar bisa muntah.


Yoo Ra muncul saat Song Yi keluar dari toilet. Song Yi menyapa Yoo Ra dengan basa-basi, membuat Yoo Ra marah. Tapi Yoo Ran  memang sudah marah pada Song Yi duluan karena tanpa basi-basi ia menyuruh Song Yi untuk pindah salon. Ia selalu ingin marah jika melihat Song Yi. Song Yi menjawab kalem kalau ia pun juga merasa seperti itu saat melihat Yoo Ra, jadi bagaimana jika Yoo Ra yang mengganti salonnya.


Mendengar nada suara Song Yi, Yoo Ra menganggap Song Yi tak hormat pada seniornya. Maka Song Yi menjawab, “Maafkan nada bicaraku saat bicara dengan oenni yang sudah tua. Tapi aku perlu mengkoreksi sesuatu. Memang benar kalau kau itu tua tapi kau bukanlah seorang sunbae.”


Yoo Ra kaget mendengar hinaan Song Yi. Tapi Song Yi mengingatkan kalau ia sudah berakting selama 12 tahun sementara Yoo Ra baru berakting selama 5 tahun. Ia memang tak bisa mengkoreksi adat istiadat, tapi dialah yang menjadi sunbae Yoo Ra.


“Kudengar kau tak mau melakukan Song Yi’s Special. Tapi kau melakukannya karena mendengar aku menginginkan acara itu. Apakah benar?”

“Benar, bagaimana kau tahu?” tanya Song Yi santai.

“Apakah kau punya perasaan minder terhadapku?” sindir Yoo Ra.

“Tidak, bukankah kau mengatakan perasaan itu saat kau merasa lebih buruk daripada orang itu?” sindir Song Yi balik. “Aku memang bodoh, tapi aku juga tahu hal itu. Yang kurasakan pada oenni adalah superioritas.”


“Benarkah? Kau merasa superior tapi kau selalu mengulang-ulang drama tipikal Cinderella? Kau hanya memilih cerita-cerita itu? Ketika orang berkumpul, mereka hanya mengatakan betapa buruknya dramamu itu.”


Song Yi tersenyum dan menjawab, “Tapi kenapa saat orang berkumpul, pasti selalu hanya aku dan dramaku saja? Kurasa orang tak ada kerjaan lain selain membicarakan dramaku. Dan aku menyukainya, walau mereka menghina atau memujiku, tapi setidaknya itu lebih baik daripada melakukan drama yang berarting 4%, yang orang bahkan tak tahu siapa yang berperan di dalamnya.”

“Apa kau sedang menghina dramaku?” Yoo Ra merasa terhina.


“Ah.. benar. Dramamu berakhir dengan rating 4% bulan lalu, kan? Drama yang tak aku mainkan karena aku tak mau melakukannya,” jawab Song Yi manis. “Karena berakhir dengan buruk, aku juga merasa menyesal karenanya.”


Yoo Ra sudah hampir menangis mendengar hinaan Song Yi. Ia berkata kalau rating bukanlah segalanya. Ia dipuji karena dibuat dengan sangat bagus. “Apa kau tahu betapa kerasnya orang-orang bekerja keras di drama itu?”

“Aku tahu orang-orang itu sangat kerja keras. Dan sutradara sangat terluka karenanya. Jadi setidaknya kau kau harus mentraktirnya makan. Kau seharusnya punya akal sehat untuk melakukannya.”

“Kau..!” bentak Yoo Ra marah.


Tapi Song Yi belum selesai. Ia tahu kalau Yoo Ra yang menyebarkan informasi palsu tentang dirinya untuk memicu gosip dan ia akan menuntut Yoo Ra karena pencemaran nama baik. “Tapi aku tak melakukannya. Kau tak tahu hal itu, kan? Jadi hentikanlah sekarang juga.”


Song Yi meninggalkan Yoo Ra, tapi Yoo Ra mengejarnya. Ia melempar alat-alat salon yang ada didekatnya dan berkata, “Katanya kau sedang mengejar anak kedua dari grup S&C. Apakah itu juga gosip?”

Song Yi berhenti dan berbalik menatap Yoo Ra, “Itu bukan gosip tapi kenyataan. Walau yang sebenarnya adalah kebalikannya. Bukan aku yang mengejarnya, tapi dia yang menggodaku.”


Yoo Ra tersenyum sinis mendengarnya, “Ahh.. jadi seperti itu? Ibumu mendapatkan uang dengan menjual namamu dan bahkan mendirikan usaha dengan memakai namamu. Sepertinya itu bukan gosip, kan? Sekarang ibumu menyebut anak kedua Grup S&C sebagai menantunya. Apakah kau tak merasa keterlaluan?”



Para tamu dan pegawai salon berbisik-bisik mendengar perdebatan mereka. Song Yi meminta Yoo Ra untuk tak membawa-bawa keluarganya. Tapi Yoo Ra tak mendengarnya dan menyarankan kalau Song Yi memang tak bisa makan (menikahi Hwi Kyung) sekaligus, maka seharusnya Song Yi menyerah saja dan tak usah memakannya.


Song Yi menghampiri Yoo Ra dan berkata kalau ia bukannya tak bisa, tapi tak mau. “Tapi kurasa kau tak tahu hal seperti ini. Tak seperti orang lain, aku tak ingin mencampuri kehidupan orang lain hanya karena uang, karena itu menyedihkan. Dan karena aku bisa cari uang sendiri.”

Yoo Ra marah, merasa Song Yi sedang membicarakan dirinya. Ia mengangkat tangan hendak menampar Song Yi, tapi tangannya tertahan. Ada seseorang yang memegang tangannya.


Song Yi kaget karena tiba-tiba melihat Min Joon ada di hadapannya sedang menahan tangan Yoo Ra, “Apa ini? Kenapa kau bisa ada di sini?”


Min Joon melepaskan tangan Yoo Ra dan meminta Song Yi untuk ikut dengannya. Tapi Yoo Ra malah marah. Ia histeris membentak Min Joon, “Apakah kau tak melihat aku sedang bicara dengan wanita sialan ini?! Jangan ikut campur dan pergilah sekarang!!”

Min Joon melirik Yoo Ra tajam dan seketika itu juga beberapa lampu meledak, membuat semua orang berteriak ketakutan, termasuk Song Yi dan Yoo Ra. Ruangan menjadi kacau dan Min Joon langsung menarik Song Yi pergi.


Song Yi bertanya kenapa Min Joon bisa tahu kalau ia ada di sana? Dan tak tahukah kalau ia sekarang merasa sangat terkejut? Tapi Min Joon hanya diam memandangi Song Yi. Melihat Min Joon hanya diam dan menatapnya, Song Yi bertanya, “Kenapa? Apakah karena aku tak sengaja masuk ke rumahmu kemarin? Kau datang kemari untuk membicarakan hal itu?”


Min Joon tetap memandangi Song Yi. Tanpa diminta Song Yi pun menjelaskan kalau yang kemarin adalah salah paham saja. Tak ada salahnya untuk minum-minum dan jadi mabuk, “Dan karena kau mabuk, kau bisa buat kesalahan.”

Min Joon mengeluarkan dompet dan bertanya, “Siapa ini?” Song Yi merampas dompet itu dan marah karena Min Joon melihat foto orang tanpa permisi. Tapi Min Joon berteriak padanya, “Siapa ini?!”



Song Yi balik bertanya pada Min Joon, “Apa aku harus menjawabnya?” Ia tak menjawab dan berjalan pergi. Tapi Min Joon menariknya dan mendorongnya ke dinding. Song Yi membentak Min Joon yang melakukan hal itu dan mengatainya gila. Tapi Min Joon terus memandangnya.


Kau.. siapakah dirimu?”


Dan saat itu terdengar ucapan Min Joon seperti di akhir prolog episode 1, “Entah kau menginginkannya atau tidak, yang terjadi pasti akan terjadi. Dan makhluk Bumi menyebutnya sebagai takdir.”

Epilog





Pada wawancara Chun Song Yi’s Special, Song Yi ditanyai tentang cinta pertamanya. Sambil tertawa kecil Song Yi menjawab kalau ia pernah beberapa kali berkencan, tapi ia tak memiliki seseorang yang pantas disebut ‘cinta pertama’.


“Saat aku kecil, aku pernah hampir mengalami kecelakaan besar. Tapi seorang ahjussi menolongku. Aku tak bisa mengingatknya tapi ia tampan. Ia juga tinggi, lembut dan tipe orang yang hangat?”


Dan dalam wawancara Min Joon, Min Joon berkata kalau ia tak memliki jenis wanita yang ia sukai. Tapi ia punya jenis wanita yang tak ia sukai. “Gadis pemabuk, aku membencinya. Gadis yang tak bisa menempatkan diri, itu malah lebih kubenci. Gadis yang sangat sok tahu, gadis yang bertindak seenaknya atau suka membual, aku paling membencinya. Ada gadis yang memiliki semua sifat itu, dan yang kutahu, ia adalah yang terburuk.”


“Dia adalah yang terbaik,” kata Song Yi meneruskan. “Walau saat itu sangat singkat, tapi ia terasa sangat misterius tapi juga terasa sangat hangat. Aku masih dapat mengingatnya. Aku tak tahu apakah Paman itu akan mengingatku. Tapi, kupikir aku akan langsung mengenalinya saat itu juga. Seperti takdir.”


Interview berakhir saat sutradara berkata, “Cut, okay!” Song Yi segera berdiri dan melihat Min Joon lewat dengan sepedanya, tak peduli akan keramaian yang dibuat oleh Song Yi. Song Yi memandang sinis ke arah Min Joon dan bergumam, “Dasar sialan..”


Komentar :


Ha.. dan Min Joo benar mengenai Song Yi. Song Yi memang pembual. Katanya dia akan bisa mengenali paman itu saat itu juga, tapi saat melihat Min Joon, ia malah kesal melihatnya dan mengumpatnya. Atau mungkin Song Yi tak mengira kalau paman itu sekarang menjadi dongsaeng karena tak berkeriput sama sekali. Mungkin Song Yi harus bertanya propofol merek apa yang digunakan Min Joon. Err… propolis, ding.

Ahh.. Saya malah nulis komen kaya para haters.


Kalau sebelumnya saya berkata kalau saya suka dengan Song Yi, sekarang saya ingin berkata kalau saya suka interaksi antara Min Joon dengan Song Yi. Walau Min Joon dikatakan lebih muda dari Song Yi, tapi kita dapat merasakan old soulnya Min Joon, dan Kim Soo Hyun bisa mengeluarkan karakter old soul Min Joon dengan sangat baik.

Dan jika sebelumnya ada yang meragukan pasangan Kim Soo Hyun dan Jeon Ji Hyun yang beda usianya jauh sekali, siap-siap menarik kata-katanya. Karena di sini Kim Soo Hyun walau muka muda, tapi kelihatan kalau jiwanya yang tua.


Sedangkan Jeon Ji Hyun.. hhh.. rasanya geleng-geleng liat gayanya apalagi pas dia mencoba menyihir pintu apartemen agar bisa terbuka. Pernah lihat seorang dewasa yang bertingkah kekanak-kanakkan? Dan apa yang biasanya terucap dari mulut kita? “Dia pasti MKKB. Masa kecil kurang bahagia.”

Dan saat jiwa tua bertemu dengan jiwa yang masih muda, tak peduli berapapun usianya, perbedaan itu akan terlihat. Dan Kim Soo Hyun dan Jeon Ji Hyun berhasil mengeluarkan jiwa-jiwa itu. Banyak jempol deh, buat mereka.


Saya juga merasa Min Joon jatuh cinta pada Yi Hwa, gadis 400 tahun yang lalu. Atau mungkin penyesalan? Dan Min Joon mendengar betapa serupanya ucapan Yi Hwa dan Song Yi kecil, “Apakah kau malaikat maut?” Ia mungkin jatuh cinta pada Yi Hwa dan reinkarnasinya, bukan Song Yi yang artis top. Jadi wajar kalau ia tertarik pada Song Yi.

Entah apa yang terjadi dengan Yi Hwa dan tusuk konde Kristal itu. Apakah ujungnya patah karena sebuah kejadian seperti Wol Ryung dan Seo Hwa di Gu Family Book? Hahaha… *Inii lagi.. Mbak Dee ngomongin apa, sih?* *abaikan dugaan yang gak jelas ini*


Btw, siapa yang ngeri melihat Jae Kyung? Di episode satu, ada seorang yang mati dalam kecelakaan mobil, yang membuat ayah Jae Kyung merasa bersalah karena merasa senang dengan berita itu. Dan jika menghubungkan dengan kata-kata Jae Kyung saat bicara dengan seorang wanita di telepon, sepertinya Jae Kyung membunuh orang dan yang Jae Kyung bunuh tak hanya satu orang saja.

Mungkin orang yang kecelakaan di episode 1 itu adalah salah satu korbannya. Dan mungkinkah kakak Hwi Kyung dan Jae Kyung, yang katanya adalah pewaris S&C, juga dibunuh oleh Jae Kyung? Sepertinya kakak pertama itu sudah mati (atau mungkin koma dan disembunyikan) karena Hwi Kyung selalu disebut sebagai anak kedua Grup S&C.

Uhh.. serem kalau ngebayangin hal itu benar-benar terjadi. Tapi mungkin saja karakter sekeji itu harus muncul, karena tak akan lawan antagonis yang sepadan dengan Min Joon yang memiliki kekuatan super. Hwi Kyung yang satu kategori dengan Song Yi tak akan pernah menang dari Min Joon.

Tapi Jae Kyung? Sepertinya otaknya segera berputar cepat kalau ternyata ia harus bermasalah dengan Min Joon. Dan saat ia menyelidiki latar belakang Min Joon, yang baru muncul secara badaniah selama 2 tahun (kata pengacara Jang, Min Joon baru berganti identitas 2 tahun yang lalu), maka kecurigaannya pasti langsung timbul. Dan hal itu akan membahayakan misi Min Joon untuk bisa kembali ke planetnya 3 bulan lagi dan bahkan membahayakan keselamatannya.


Semoga Hwi Kyung baik-baik saja. Walaupun sedikit oon, tapi saya merasa kalau Hwi Kyung bukan orang jahat. Tapi ia bisa menjadi boneka Jae Kyung, yang sewaktu-waktu bisa dibuang oleh Jae Kyung, jika Jae Kyung sudah tak memerlukannya atau saat merasa terancam oleh keberadaan Hwi Kyung (yang sebenarnya juga merupakan pewaris S&C juga)

Err… ngelantur lagi ya komen saya? Komentar saya ini hanya dugaan saja. Bisa saja Jae Kyung memang sebaik yang Hwi Kyung sangka dan kata-kata Jae Kyung pada wanita itu hanya main-main saja, dan sebenarnya Jae Kyung memang sukarelawan yang baik dan jarang ditemukan. Dan bisa juga Hwi Kyung-lah yang benar-benar berkarakter jahat. *tapi kok kayanya ga mungkin, ya? Halah.. abaikan.*
Terima kasih atas kunjungannya ^^